AWAL ADALAH SEGALANYA

Teman-teman yang mendudukai kelas tiga di tingkat akhir SMA, sepertinya begitu ribut mengurus cocok dimanakah aku nanti?. Begitulah kebanyakan yang terjadi pada hati anak kelas tiga. Terutama masalah penentuan perguruan tinggi yang sesuai pilihan dan mendukung kesuksesan karir masa depan. Begitu juga  aku, sama seperti mereka kebanyakan. Maklum, lulusan perguruan tinggi sangat diperhitungkan di masa serba elektronik ini. Diantara mereka ada yang merasa pasrah dan menerima saja apa adanya yang terjadi padanya, itulah orang yang termasuk kurang sabar dan sedikit ikhtiar. Ada juga yang begitu kritis betanya sana-sini dan membutuhkan pertimbangan berkali-kali, demi kelancaran proses pendidikan.
Tapi aku sarankan dalam memilih jenis pergiruan tinggi dan jurusan harus sesuai dengan kemampuan kita sebenarnya. Bukan dibujuk teman atau tekanan dari luar diri kita. Percuma kan kalau apa yang menjadi pilihan kita ternyata kita tidak menguasainya. Tentu waktu, tenaga,  biaya yang selama ini kita usahakan akan sia-sia. Menguap begitu saja. Tidak dapat apa-apa. Yah, sudahlah…..
Ada baiknya kita coba renungi pesan dari kak Alfin, salah seorang mahasiswa di Unair Surabaya. Dalam rangka sosialisasinya di sekolah kemarin, Kak Alfin menjelaskan beberapa hal :
  • Amati kebiasaan sehari-hari kita. Ha ini mnurutku  sangat perlu dipertimbangkan karena waktu kuliah nanti kita dihadapkan pada kegiatan-kegiatan yang lebih menjurus ke hal-hal yang selama ini menjadi kebiasaan kita. Jadi lebih mudah apabila kita menyesuaikan behavior tersebut pada jurusan yang kita ambil nantinya.
  • Tanyakan pada diri sendiri apa yang aku dapatkan setelah memilih jurusan itu. Tentunya ini sudah jelas bagi kita. Apakah anti aku ingin jadi guru, dosen, seniman, presenter,manajer, bahkan presiden…tentunya diri sendirilah yang lebih menguasainya.
  • Aku masih lupa, besok saja ya…

                                                      BIKULLI SURUR....

Jadwal un semakin di depan mata...hiii! ah tapi siapa takut. sebenarnya tegang juga sih, tapi bismillah lillahi taala, ok!
Di tengah ketegangan yang masih sering melanda, aku dikejutkan oleh sebuah cerita yang dialami oleh adik sepupuku. Dia sudah menikah dan berusia sekitar kepala tiga. Otomatis dia sangat tau masalah keluarga, sakinah khususnya. Dia bercerita tentang istrinya yang sekarang sedang tergolek lemah di rumah dan tak berdaya untuk keluar rumah. Sebut saja istrinya itu Ami. Sedangkan suaminya, Adi.

Dua anaknya, Hanafi dan Sari yang masih kecil usianya juga tergolek di rumah karena satu alasan: sakit muntaber. ohoww, aku sempat terkejut. Kok bisa langsung bertiga. Ibu dua anak lagi. Secara tidak langsung, Adi yang sebagai ayah yang juga pengertian harus mampu memangku tugas sebagai kepala keluarga juga sebagai ayah rumah tangga. Paginya sebelum berangkat ke rumahku untuk bekerja di rumah paman, Adi sudah memasak yang sebelumnya juga mencuci berember-ember untuk anak istrinya. Dalam keadaan seperti itu, Adi masih menyempatkan diri untuk memijat ketiganya. Bayangkan, kawan....seorang ayah yang memiliki kewajiban mencari nafkah, ia masih setia mendampingi istrinya di saat genting pun tanpa meninggalkan kewajibannya. Adi juga mengatakan bahwa dulu waktu selama 3 bulan setelah kelahiran Hanafi juga menggantikan tugas sebagai ibu. Mencuci sekian banyak bak adalah hal yang biasa baginya. Memang saat setelah melahirkan kondisi kesehatan Ami memang belum sepenuhnya membaik. Apalagi cuaca yang buruk seperti sekarang ini. mahalnya cahaya matahari juga tentunya mempengruhi.

Adi mengatakan susahnya jadi seorang ibu rumah tangga itu membutuhkan kesabaran. Mengurus anak belum lagi kalau anaknya rewel, bangun di tengah malam saat semua orang terlelap hingga membangunkan sang bunda yang telah lelah seharian membereskan rumah, mencuci pakain, memasak, menimang anak de el el. 
Intinya dalam sebuah keluarga dibutuhkan pengertian dan kebersamaan. Saling memahami dan melengkapi.Selain itu masih banyak lagi. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

man jadda wajada

mungkin anda akan bertanya-tanya, mengapa saya mengambil judu halaman blog ini dengan kata-kata "Man Jadda wajada". yups! ini adalah pepatah arab yang paling terkenal. Saya sangat terinspirasi kata-kata ini ketika selesai membaca novel Ranah Tiga Warna, buku kedua dari trilogi Negeri lima Menara.
Hal yang selalu saya ingat dalam mengambil langkah untuk mengarungi hidup ini ( dari pepatah tersebut ) adalah bahwa saya jadi apapun nantinya semula berawal dari mimpi.Tapi bukan impian semata yang menjadikan saya terus bertahan dalam kesulitan melainkan dari segenap doa yang saya panjatkan juga doa dari orang terdekat saya yang selalu mendukung dan memberi pengarahan. Bagi saya bermimpi itu boleh-boleh saja, asalkan kita tidak terjerumus pada angan-angan kosong yang akan merusak jiwa kita. Asalkan sesuai syariat dan tidak melanggar perintah-Nya.
Nah, Bagaiman dengan anda?